Mengenal Sosok Napi ‘Golden Boy’ Oknum Karutan di Sumut, Ikut Dipindah Kemana pun Pejabat Ini Bertugas

Di tengah komitmen Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto dalam melakukan pembenahan rutan dan lapas, nyatanya masih banyak oknum-oknum pejabat ‘bengal’ di Sumatera Utara yang terus menerapkan budaya lama demi keuntungan pribadi.

Indikasi itu muncul menyusul beredarnya kabar terkait adanya perlakuan khusus terhadap sosok napi berinisial AAL yang kini menghuni Rutan Tanjung Pura, Langkat.

Menurut cerita yang berhasil dihimpun, AAL dikenal sebagai sosok napi istimewa. Tak sebatas itu, ia juga disebut-sebut merupakan ‘Golden Boy’ dari Karutan Tanjung Pura.

Bukan sekadar isapan jempol, dugaan itu mencuat setelah AAL diketahui sudah tiga kali berpindah tempat penahanan. Saktinya lagi, AAL yang merupakan napi kasus bandar narkoba dengan masa hukuman 3 tahun penjara itu, bisa dipindahkan dari Lapas yang menjadi tempat warga binaan yang telah dijatuhi vonis hukuman, ke Rutan yang merupakan tempat tahanan berstatus terdakwa alias pesakitan yang masih menjalani proses hukum.

Berdasarkan penelusuran wartawan, setelah palu hakim diketok beberapa bulan lalu, ketika itu AAL langsung dijebloskan ke Lapas Pematang Siantar. Ketika itu, FP yang menjabat sebagai Kepala Pengamanan di Lapas Narkotika Langkat, dengan mudahnya memindahkan AAL ke tempat dia berdinas.

Tak berhenti sampai disitu. Ketika Menteri Imipas mempercayakan FP menjadi Karutan Tanjung Pura, sebagai anak emas, AAL juga ikut dipindahkannya.

Lantas, apa hubungan antara Karutan FP dengan AAL ini?. Hasil investigasi pun menemukan adanya benang merah yang kuat antara sang pejabat dengan warga binaan itu.

Menurut berbagai sumber terpercaya dan beberapa mantan napi menyebutkan, hubungan keduanya terindikasi bukan hubungan biasa. Sebagai golden boy, AAL kabarnya diberi kepercayaan sebagai juru kutip alias ujung tombak dalam mengumpulkan pundi-pundi hasil pungutan liar dari napi yang masih bebas beraktivitas menjalankan bisnis narkoba, lodes alias napi pelaku penipuan scam, hingga perdagangan minuman keras yang kabarnya beraktivitas di beberapa Lapas/Rutan.

Bukan itu saja, hubungan mereka semakin erat karena AAL ternyata adik kandung dari oknum wartawan berinisial BIL. Hubungan FP dan BIL selama ini juga diketahui bukan hubungan antara sosok pejabat sebagai narasumber dengan wartawan yang biasa membutuhkan informasi. Kedekatan mereka lebih cenderung pada urusan bisnis dan permainan ilegal di dalam Rutan.

“Sudah menjadi rahasia umum di kalangan mereka bahwa BIL yang selama ini diduga kuat mem-back up FP dalam menjalankan praktik ilegal di tempat dia bertugas,” beber sumber.

Teka Teki Uang Rp12 Juta Masuk Ke Rekening BIL

Di samping itu, lanjut sumber, BIL juga kerap dijadikan FP sebagai martir dalam menyerang napi-napi yang berada Lapas atau Rutan sumatera utara menyebarkan opini negatif.

Tujuannya jelas, demi mencari keuntungan sekaligus untuk mengaburkan permainan kotor yang dikendalikannya agar tidak termonitor oleh pihak internal.

Selain itu diduga juga beberapa Dana hasil tersebut disebut-sebut ditransfer ke seorang mantan napi berinisial BK.

Peran BK diduga sebagai pihak yang menampung sekaligus mengelola aliran dana dari dalam, sehingga transaksi tidak mudah terdeteksi.

Selain itu, ada dua tempat lainnya yang cenderung selalu kondusif jauh dari sorotan negatif media, yakni Rutan Sidikalang di bawah pimpinan Loviga dan Rutan Humbahas dengan Karutannya Ucok. Serta berdasarkan penelusuran publik berita negatif di kedua tempat tersebut cenderung menghilang bak ditelan bumi.

Bahkan di balik berbagai kabar negatif terkait kolaborasi kotor FP dan BIL yang muncul ke permukaan, beredar pula bukti transferan uang sebesar Rp12 juta. Meski belum diketahui pasti siapa pengirimnya, namun Informasi yang berkembang, uang tersebut merupakan uang suap dari keluarga napi yang berhasil ditakut-takutinya lewat berita miring.

“Mainnya klasik, ada napi yang dituduh bermain di dalam, baik narkoba, lodes ataupun pakai HP di dalam. FP lantas memberitahukannya ke BIL. Lalu diberitakan, untuk menjaga kondusifitas dan karena napi tersebut dipindahkan ke Nusa Kambangan, diperintahkanlah pihak keluarga untuk menutup berita itu. Kalau main begini sangat sering terjadi, dan juga ada seorang oknum mantan napi dan pengguna narkoba berinisial klewang yang diduga kuat sebagai kaki tangannya untuk melakukan teror ke beberapa lapas/rutan di sumatera utara ” pungkas sumber

Jika seluruh dugaan ini benar adanya, tentu hal tersebut menjadi sesuatu yang sangat memprihatinkan dan mencederai rasa keadilan. Praktik seperti ini tidak hanya merusak integritas, tetapi juga berpotensi memperkuat jaringan kejahatan dari dalam. Kondisi ini jelas bertolak belakang dengan semangat pembinaan dan penegakan hukum, sehingga perlu menjadi perhatian serius dan segera ditindaklanjuti oleh pihak berwenang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *