Media Nasional – Kementerian Kesehatan meminta masyarakat untuk membatasi konsumsi makanan dan minuman dengan pemanis buatan. Hal tersebut merespons maraknya penggunaan pemanis buatan (aspartam) sebagai bahan baku kimia pada makanan dan minuman.
“Berdasarkan penelitian yang dipublikasi bahwa aspartam memiliki tingkat kemanisan 180-200 kali lebih manis daripada Sukrosa. Oleh karena itu, aspartam kerap digunakan sebagai gula diet untuk penderita diabetes,” kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan RI, Maxi Rein Rondonuwu dalam keterangannya, Minggu (16/07/2023).
Lebih lanjut, Maxi mengatakan, bahwa Aspartam merupakan senyawa yang terbuat dari fenilalanin dan asam aspartat. Aspartam itu, kata Maxi yang mengantikan gula pada produk makanan dan minuman yang dijual pasaran.
“WHO sendiri telah membatasi konsumsi aspartam pada makanan dan minuman max 40 mg per kg. Hal itu dilakukan untuk mencegah risiko efek buruk pada kesehatan,” ujar Maxi.
Menurutnya, terdapat sejumlah gangguan yang bisa ditimbulkan aspartam. Seperti berat badan yang meningkat jika dikonsumsi secara berlebihan.
“Kondisi itu berisiko mengganggu metabolisme di dalam tubuh yang memicu peningkatan berat badan. Selain itu, makanan yang mengandung aspartam sering kali terbuat dari bahan lain yang memiliki kalori tinggi,” kata Maxi.
Kalau makanan tersebut dikonsumsi melebihi batas wajar, kata Maxi maka bisa menaikkan berat badan hingga menyebabkan obesitas. Selain itu, aspartam juga memperburuk migrain karena dapat menghasilkan produk sampingan berupa glutamat saat diolah metabolisme tubuh manusia.
“Ketika kadar glutamat melebih batas normal maka beresiko menyebabkan sakit kepala. Konsumsi aspartam secara berlebihan juga dilaporkan dapat memicu gangguan perilaku,” ucap Maxi.
Maxi mengatakan, dampak negatif dari aspartam lainnya adalah diabetes. Konsumsi aspartam secara berlebihan justru dapat meningkatkan kadar gula darah yang memicu terjadinya kerusakan pankreas.
“Akibatnya, produksi hormon insulin dalam tubuh menjadi terganggu. Sehingga berisiko menyebabkan diabetes,” katanya.

