MEDIA NASIONAL – Pasar properti Jakarta mencatatkan kinerja positif sepanjang kuartal II 2026. Pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, meningkatnya kepercayaan penyewa (occupier), serta tingginya permintaan terhadap aset properti berkualitas dengan konektivitas yang baik menjadi faktor utama penggerak pasar.
Laporan terbaru CBRE Indonesia menunjukkan fundamental sektor perkantoran, industri dan logistik, hingga ritel terus menguat. Di saat yang sama, konsep Transit Oriented Development (TOD) diprediksi menjadi katalis baru yang akan membentuk wajah pasar properti Jakarta pada masa mendatang.
Head of Research Consulting CBRE Indonesia, Anton Sitorus, mengatakan aktivitas pasar saat ini ditopang oleh permintaan riil, bukan spekulasi.
“Saat ini penyewa semakin selektif dengan memprioritaskan kualitas, aksesibilitas, efisiensi operasional, serta nilai jangka panjang. Minat terhadap proyek yang menggabungkan properti berkualitas dengan konektivitas transportasi terus meningkat, terutama di sekitar simpul transportasi,” ujarnya.
Sektor Perkantoran Terus Menguat
Di kawasan Central Business District (CBD), penyerapan ruang kantor bersih mencapai sekitar 16.800 meter persegi pada kuartal II 2026. Tingkat okupansi meningkat menjadi 76,3 persen.
Permintaan masih didominasi tren flight-to-quality, yakni perpindahan penyewa menuju gedung Premium Grade dan Grade A yang menawarkan spesifikasi modern, konsep berkelanjutan (sustainability), serta fasilitas lebih lengkap. Terbatasnya pasokan baru juga turut menopang kenaikan tarif sewa.
Sementara itu, pasar perkantoran Non-CBD mencatat penyerapan bersih sekitar 12.900 meter persegi dengan tingkat okupansi mencapai 73,3 persen. Permintaan tetap terkonsentrasi pada gedung berkualitas tinggi yang memiliki aksesibilitas semakin baik.
Menurut Co-Head Office Services CBRE Indonesia, Albert Dwiyanto, konsep CBD kini mengalami perubahan.
“CBD masa depan tidak lagi hanya ditentukan oleh alamat, tetapi oleh seberapa baik kawasan tersebut menghubungkan masyarakat, bisnis, dan berbagai peluang. Konektivitas kini menjadi faktor utama daya saing bisnis.”
Industri dan Logistik Tetap Menjadi Primadona
Sektor industri dan logistik masih menjadi salah satu segmen dengan performa terbaik.
Head of Capital Markets and Industrial Services CBRE Indonesia, Ivana Susilo, mengungkapkan penyerapan lahan industri mencapai sekitar 62 hektare, sehingga tingkat okupansi kawasan industri Jabodetabek meningkat menjadi 91,2 persen.
Permintaan lahan terus didorong oleh operator pusat data (data center), terutama di kawasan Cikarang yang memiliki infrastruktur utilitas memadai.
Sementara itu, sektor logistik mencatat tingkat okupansi sangat tinggi, yakni 97,4 persen, didorong pertumbuhan bisnis e-commerce, manufaktur, cold chain, dan penyedia jasa logistik pihak ketiga (3PL).
Pusat Perbelanjaan Semakin Ramai
Kinerja sektor ritel juga menunjukkan tren positif. Tingkat okupansi pusat perbelanjaan Jakarta naik menjadi 86,4 persen dengan penyerapan ruang lebih dari 20.000 meter persegi.
Mal premium tetap menjadi yang terbaik dengan tingkat okupansi di atas 95 persen, didukung masuknya berbagai merek internasional, tenant kuliner premium, brand gaya hidup, hingga operator hiburan.
TOD Akan Bentuk Kota Masa Depan
Dalam sesi media briefing, Anton Sitorus menegaskan bahwa perkembangan jaringan transportasi massal akan mengubah arah pembangunan kota.
Menurutnya, Transit Oriented Development (TOD) tidak lagi sekadar konsep transportasi, tetapi telah berkembang menjadi pusat pengembangan kawasan multifungsi (mixed-use) yang mampu menciptakan nilai properti jangka panjang.
Proyek seperti MRT Jakarta Fase 2A dan pengembangan kawasan Stasiun Dukuh Atas diyakini akan membuka peluang baru bagi pengembangan perkantoran, hunian, ritel, maupun kawasan terpadu.
“Konektivitas akan menjadi penentu utama pertumbuhan properti Jakarta ke depan. Mobilitas masyarakat kini semakin memengaruhi keputusan penyewa maupun investor dalam memilih lokasi,” kata Anton.
Menutup paparannya, ia menilai fundamental pasar properti Jakarta tetap solid meski menghadapi tantangan ekonomi global.
“Kinerja pasar mencerminkan meningkatnya fundamental serta perubahan prioritas penyewa. Konektivitas, kualitas, dan efisiensi operasional akan menjadi pendorong utama penciptaan nilai properti dalam jangka panjang,” pungkasnya.

