Media Nasional – Pelemahan nilai tukar rupiah hingga Rp17.883 per dolar AS pada 29 Mei 2026 dinilai tidak boleh dipandang semata sebagai persoalan kurs. Presiden Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute, Haidar Alwi, menegaskan bahwa kekuatan ekonomi suatu bangsa pada akhirnya ditentukan oleh produktivitas dan kemampuan menciptakan nilai tambah, bukan hanya oleh pergerakan mata uang.
Menurut Haidar Alwi, nilai tukar merupakan hasil interaksi berbagai faktor global dan domestik, mulai dari penguatan dolar AS, arus modal internasional, hingga kondisi fiskal dan produktivitas nasional.
“Pasar memiliki fungsi penting karena mencerminkan tingkat kepercayaan terhadap arah ekonomi sebuah negara. Namun bangsa tidak boleh menggantungkan seluruh masa depannya pada penilaian pasar jangka pendek. Negara harus membangun Kedaulatan Produktif sebagai fondasi kekuatan ekonomi jangka panjang,” ujarnya.
Ia menjelaskan, konsep Kedaulatan Produktif berarti kemampuan bangsa mengubah sumber daya alam, sumber daya manusia, ilmu pengetahuan, teknologi, dan kelembagaan menjadi nilai tambah yang berkelanjutan.
Haidar Alwi menilai masyarakat perlu memiliki literasi yang lebih baik mengenai nilai tukar. Menurutnya, pelemahan rupiah bukan berarti ekonomi Indonesia runtuh, namun juga tidak boleh diabaikan sebagai fenomena yang sepenuhnya disebabkan faktor eksternal.
“Rupiah adalah termometer yang memberi sinyal tertentu, tetapi kekuatan ekonomi sesungguhnya ditentukan oleh kemampuan bangsa membangun daya saing dan nilai tambah secara berkelanjutan,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa menjaga kepercayaan investor dan memperkuat produktivitas nasional bukanlah dua tujuan yang saling bertentangan. Keduanya justru harus berjalan beriringan untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Menurut Haidar Alwi, Indonesia perlu terus memperkuat hilirisasi industri, ketahanan pangan dan energi, pengembangan teknologi, riset, pendidikan, serta pemberdayaan UMKM berbasis ekspor agar memiliki fondasi ekonomi yang lebih kokoh menghadapi gejolak global.
“Rupiah yang kuat pada akhirnya bukanlah tujuan akhir, melainkan konsekuensi dari bangsa yang berhasil membangun peradabannya sendiri,” pungkasnya.

